tipis

Monday, May 7, 2018

HAL-HAL YG MAKRUH KETIKA WUDHU



Setelah membahas beberapa hal yang disunnahkan ketika wudhu atau sebelumnya atau sesudahnya tiba saatnya kita membahas hal-hal yang dimakruhkan ketika wudhu.

Tapi sebelum itu perlu kita tahu apa itu makruh...

Makruh menurut bahasa artinya hal yang dibenci, sedangkan para ulama fiqih memberikan definisi makruh yaitu
ما يثاب على تركه امتثالا ولا يعاقب على فعله
“Sesuatu yang diberikan pahala karena meninggalkannya dengan maksud mengerjakan perintah Allah dan tidak berdosa karena mengerjakannya”

Makruh ini tidak mendatangkan dosa jika dikerjakan tapi para ulama sholihin selalu menghindari makruh karena hal itu mendatangkan pahala.

Perlu diperhatikan bahwa yang mendatangkan pahala ketika kita meninggalkan hal yg makruh adalah jika diiringi niat mengerjakan perintah Allah, karena dalam hal yg makruh ada larangan mengerjakannya walaupun larangan itu tidak sekuat larangan hal yg diharamkan.

Adapun jika ditinggalkan hal yg makruh karena hal lain maka pahalanyapun tidak didapat. Sebagai contoh meninggalkan merokok bagi yang mengatakan merokok itu makruh hukumnya.

Seseorang yang tidak merokok dg niat dan maksud karena menghindari penyakit sebab merokok mendatangkan banyak penyakit maka pilihan niat itu membuatnya tidak mendatangkan pahala.
Begitupun ketika seseorang meninggalkan hal-hal yang makruh yang ada ketika wudhu. 

Naah itulah sedikit seputar makruh...

Kalu apa saja hal-hal yang dimakruhkan ketika wudhu..??

Inilah diantaranya:
  • Mendahulukan yang kiri dari yang kanan.
Artinya ketika membasuh kedua tangan lalu ia memulainya dengan membasuh tangan kiri maka perbuatannya itu makruh hukumnya walaupun sah wudhunya.
Begitupun disemua pekerjaan wudhu yg disunnahkan mendahulukan kanan dari kiri.

Adapun yang tidak disunnahkan mendahulukan kanan dari kiri maka tldak berlaku hukum makruh sebagaimana tidak berlaku hukum sunnah. Contohnya membasuh wajah dan mengusap telinga, kedua hal ini tidak disunnahkan mendahulukan kanan maka tidak dimakruhkan mendahulukan kiri karena seharusnya membasuh semua muka secara bersamaan dan mengusap kedua telinga secara bersamaan.

Dalil dimakruhkan memulai yg kiri sebelum kanan diambil dari perintah memulai dg kanan didalam wudhu dari hadits yg diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dalam shohih mereka, Rasul bersabda:
واذا توضأتم فابدءوا بميامنكم
“Dan jika kalian berwudhu maka mulailah denga kanan kalian”
Ketika Rasul memerintahkan kita memulai dengan yg kanan ketika berwudhu maka dimakruhkan memulainya dengan yg kiri.

  • Berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung dengan kuat. Hal ini dimakruhkan hanya untuk yang sedang menjalankan puasa adapun yang sedang tidak berpuasa malah disunnahkan untuknya.
  • Meminta seseorang mewudhukan dirinya tanpa ia memiliki uzur syar’i.
Sebenarnya ada beberapa hukum meminta bantuan orang lain dalam wudhu, yaitu
  1. Makruh, pada hal yg yelah disebutkan
  2. Mubah, untuk yang minta didatangkan air untuk berwudhu
  3. Khilaful awla, untuk yang minta diguyurkan air ketika berwudhu
  4. Wajib, untuk orang yang sakit yang tidak mampu berwudhu sendiri tanpa bantuan orang lain.
  • Berlebihan dalam menggunakan air wudhu walaupun ia berwudhu dari air laut sekalipun ketika berada ditepi pantai.
  • Melebihi 3x dalam basuhan atau usapan atau kurang dari 3x, itu jika air yg digunakan berwudhu miliknya sendiri atau bukan milik siapa2 tapi jika air yang digunakan untuk wudhu berasal dari air yang diwakafkan khusus untuk wudhu lalu cucian atau usapannya secara yakin lebih dari 3x maka haram hukumnya.
Itulah beberapa hal yang dimakruhkan ketika berwudhu.

Wednesday, April 25, 2018

Sunnah siwak, faedah dan berbagai hukumnya serta doanya



Sesuai dengan janji saya sebelumnya bahwa saya akan membahas secara khusus tentang siwak, maka inilah sedikit pembahasan seputar siwak yang bisa saya tulis disini.

Bersiwak dapat dilakukan dengan segala benda yg suci dan kasar baik itu kain atau kayu dan lainnya digunakan digigi dan sekitarnya untuk menghilangkan bau mulut. akan tetapi yang paling afdhol adalah menggunakan kayu arok yg biasa digunakan bersiwak, bisa kita beli dibanyak tempat, paling harganya kisaran Rp 15ribuan tapi pahalanya berlimpah dari Allah, alias modal kecil tapi keuntungan besar.

Hukum bersiwak

Hukum bersiwak sebagai berikut:
1. Sunnah: disetiap waktu
2. Wajib: jika dinazarkan, jika bergantung padanya untuk menghilangkan najis atau bau yg tidak sedap ketika akan menghadiri jumatan dan dipastikan itu akan menyakiti dan menganggu orang lain
3. Haram: jika ia bersiwak dengan siwak orang lain tanpa izinnya dan ia tahu pemiliknya tidak redho, tapi jika dengan izinnya atau ia tahu pasti bahwa pemiliknya redho maka hukumnya khilaful awla (kurang bagus) jika bukan diniatkan memgambil berkah tapi jika diniatkan demikian maka tidak menjadi khilaful awla.
4. Makruh: bagi yang sedang berpuasa dan digunakan setelah tergelincir matahari disiang hari menurut jumhur ulama, namun Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak makruh bersiwak bagi yg berpuasa secara mutlak artinya kapan saja baik pagi ataupun siang setelah tergelincir matahari.

Ditekankan kesunnahan bersiwak di waktu-waktu berikut ini:
  • Ketika akan berwudhu
  • Ketika akan melaksanakan sholat
  • Ketika sakaratul maut
  • Diwaktu sahar yakni sebelum azan subuh
  • Ketika akan baca alqur’an, hadits dan ilmu syar’i
  • Ketika mulut menjadi bau
  • Ketika akan masuk rumah
  • Ketika akan tidur
  • Ketika bangun dari tidur

Faedah bersiwak

Manfaat bersiwak banyak sekali, sebagian ulama menyebutkan kurang lebih ada 72 manfaat dan yang terpentingnya adalah memudahkan mengucap 2 kalimat syahat ketika sakaratul maut.
Adapun manfaat lainnya sebagai berikut:
  • Membersihkan mulut
  • Mendatangkan redho Allah
  • Memutihkan gigi
  • Menguatkan gusi
  • Melambatkan tumbuhnya uban
  • Melipatk gandakan pahala amal
  • Memudahkan keluarnya ruh ketika wafat
  • Dll
Doa ketika bersiwak

Sebagian ulama mensunnah baca doa ketika akan bersiwak, doa yang dibaca adalah sebagai berikut:

اللهم بيض به اسناني وشد به لثاتي وثبت به لهاتي وبارك لي فيه يا اوحم الراحمين

Allahumma bayyidh bihii asnaanii wa syudda bihii latstsaatii wa tsabbit bihii lahaatii wabaarik liiy fiihi yaa arhamarroohimiin

(Ya Allah putihkanlah dengannya gigi-gigiku, dan kuatkanlah dengannya gusi-gusiku dan tetapkan dengannya langit-lngit mulutku wahai Zat yang Maha Penyayang dari sekian yang memiliki kasih sayang)

Dimakruhkan oleh ulama jika ukuran kayu siwak melebihi satu jengkal panjangnya karena diriwayatkan bahwa setan akan menunggangi hujung kayu yg lebih dari sejengkal.

sekian seputar siwak secara singkat, terima kasih.

Thursday, March 29, 2018

SUNNAH-SUNNAH WUDHU, melebihkan basuhan wajah, tangan dan kaki

Di hari kiamat nanti ketika semua makhluk telah dibangkitkan dari kubur-kubur mereka, setelahnya mereka akan dikumpulkan ditempat yang disebut dengan padang mahsyar.

Masing-masing umat akan kembali kepada Nabi dan Rasul mereka disaat itu. Kembali kepada para Nabi dan Rasul untuk mendapatkan syafaat dari mereka. Tidak juga ketinggalan Rasulullah dan umat beliau. 

Tapi bagaimana Rasulullah mengenal umatnya dari sekian makhluk yang begitu sangat banyak??

Apakah ada tanda di diri umat beliau yang membuat beliau mengenal mereka?
Jawabannya tentu ada..

Jika kita memiliki tanda itu maka beliau akan mengenal kita dan jika tidak maka tentu sebaliknya, beliau tidak akan mengenal kita dan dampaknya yang sangat mengerikan setelah itu adalah kita tidak berpeluang mendapat syafaatnya yang sangat di harapkan.

Seorang yang mukanya hitam legam disana, bagaimana Rasulullah akan mengenalnya..!??

Jangankan beliau jangan-jangan keluarganyapun tidak akan mengenalnya. Dari itu didalam doa wudhu kita diajarkan membaca doa ini:

اللهم بيض وجهي بنورك كما تبيض وجوه اولياءك

“Ya Allah putihkan wajahku dengan cahayaMu sebagaimana menjadi putih wajah-wajah para kekasihMu”

Dibaca ketika membasuh wajah.

Jika wajah seseorang putih bersih disana, masih ada tanda lainnya yang diperlukan agar dikenal Rasulullah dihari kiamat.

Apa tanda itu..??

Tanda itulah yang disebut dengan ghurroh dan tahjiil.
Apa itu maknanya...?
Jika diitinjau dari segi bahasa maka ghurroh berarti warna putih yang ada dikepala bagian depan seekor kuda dari seluruh tubuhnya yang berwarna hitam. Yakni ketika ada kuda berwarna hitam semua tubuhnya lalu hanya bagian depan kepalanya atau ubun-ubunnya berwarna putih maka warna putih itulah yang disebut dengan ghurroh dan jika warna putih itu berada di kaki-kakinya maka itulah yang disebut dengan tahjiil.

Didalam hadits shohih riwayat imam bukhori muslim disebutkan:

ان امتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من اثار الوضوء فمن استطاع منكم ان يطيل غرته فليفعل

“Sungguh umatku dipanggil dihari kiamat putih wajah dan kedua tangan dan kakinya dari bekas wudhu maka siapa yang mampu diantara kalian melebihkan basuhan ghurrohnya maka hendaklah ia lakukan”

Dan didalam hadits Muslim disebutkan:

انتم الغر المحجلون يوم القيامة بإسباغ الوضوء فمن استطاع منكم فليطل غرته وتحجيله

“Wajah, tangan dan kaki kalian akan putih dihari kiamat dengan sebab menyempurnakan wudhu maka siapa mampu diantara kalian maka hendaklah ia melebihkan basuhan wajah dan kedua tangan dan kakinya”

Dari kedua hadits tersebut disunnahkan kita melebihkan sedikit basuhan diwajah disemua sudutnya dan melebihkan sedikit basuhan dikedua tangan serta kedua kakinya. Dengan melebihkan sedikit basuhan dari basuhan yang diwajibkan maka didapat kesunnahannya.

Adapun jika ingin mendapatkan sunnah yg lebih sempurna maka dibasuh wajahnya serta bagian depan kepalanya dan kedua sisi lehernya. Dan untuk kedua tangan dan kaki dibasuh kedua tangannya sampai dengan seluruh kedua lengan atasnya dan dibasuh kedua kakinya dan seluruh kedua betisnya.

Menjadi penting sunnah ini untuk dilakukan disetiap wudhu karena ia akan menjadi tanda untuk Rasulullah SAW mengenal umatnya dihari kiamat. 

Dari itu ulama mengatakan seperti yang disebutkan oleh syekh asy syarbini alkhotib dalam kitabnya mughnil muhtaj syarhul minhaaj bahwa hal ini menjadi keistimewaan yang hanya dimiliki umat ini dan tidak dimiliki oleh umat selainnya.

Berkata imam Qostholani dalam kitabnya irsyadus saari syarah shohih bukhori bahwa tanda-tanda di wajah dan kedua tangan dan kaki tersebut ada sewaktu mereka berada di padang mahsyar sampai di telaga Rasulullah lalu hilang tanda itu ketika mereka masuk kedalam surga.