tipis

Friday, January 25, 2019

BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR MANDI


Dalam kesempatan kali ini kita akan membahas keberapa permasalahan yg berkaitan dg mandi wajib dan mandi sunnah.

Beberapa permasalahan ini penting untuk disebutkan karena diantaranya berkaitan dengan kesahan mandi dan yang lainnya berkaitan dengan kesunnahan ketika mandi.

Beberapa permasalahan tersebut diantaranya sebagai berikut:
  • Disebutkan dalam artikel yang lalu bahwa diantara sunnah mandi adalah membaca Bismillah, mencuci kedua telapak tangan, berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung yang dikenal dengan istilah الاستنشاق (baca: istinsyaaq) dan mengeluarkan air dari hidung setelahnya yang dikenal dengan istilah الاستنثار (baca: istintsaar) juga disunnahkan membaca ta’awwuzd sebelum membaca bismillah. membaca bismillah dan hal yang disunnahkan di atas adalah kesunnahan tersendiri yang berlainan dengan yang disunnahkan dalam wudhu, artinya membaca bismillah disunnahkan juga ketika berwudhu begitupun berkumur dan lain lain. Jadi bismillah dan sunnah-sunnah lainnya seperti berkumur-kumur, cuci kedua tangan dan lain-lain dilakukan dua kali yaitu diwaktu wudhu sebelum mandi dan setelah wudhu.
  • Menghilangkan kotoran-kotoran yang suci dan yang najis sebelum mandi disunnahkan jika kotoran yang suci tersebut tidak merubah air dan tidak mencegah air ke kulit dan kotoran najisnyapun najis Hukmi atau najiz Aini Yang sudah tidak ada jirimnya (benda najisnya) Juga dapat hilang sifat-sifatnya dengan sekali siram disertai tidak berubahnya air, jika hal-hal tersebut di atas tidak terpenuhi maka membersihkan kotoran kotoran yang suci atau najis tersebut terlebih dahulu sebelum mandi hukumnya wajib bukan lagi sunnah.
  • Meninggalkan wudhu hukumnya makruh untuk menghindari pendapat ulama yang mengatakan hukumnya wajib.
  • Jika mandi tersebut hanya untuk mengangkat hadats besar karena ia tidak memiliki hadast kecil, maka cara berniatnya ketika ia berwudhu yaitu dengan diniatkan sunnah wudhu baik wudhunya dilakukan sebelum atau sesudah mandi, contohnya “aku niat wudhu sunnah untuk mandi” atau “aku niat wudhu untuk sunnah mandi karena Allah” atau “aku niat bersuci untuk sunnah wudhu”. Tidaklah cukup ia berniat sunnah mandi tanpa sama sekali menyebutkan wudhu
  • Jika ia memiliki dua hadats kecil dan besar -umumnya itu yang terjadi- jika ia berwudhu dahulu sebelum mandi maka niat yg digunakan sama dg niat-niat yg lalu, contoh “aku niat mengangkat hadats kecil” tapi jika wudhunya dilakukan setelah mandi cara niatnyapun sama agar terhindar dari perselisihan ulama tapi jk ia tidak ingin menghindari itu maka niatnya “sy niat mengerjakan sunnah mandi”
  • Disunnahkan terus dalam keadaan berwudhu sampai selesai mandi bahkan jika batal wudhunya dipertengahan mandi disunnahkan berwudhu kembali, begitu menurut syekh Ibnu Hajar. Adapun menurut syekh Ramli tidak disunnahkan berwudhu kembali ketika berhadats dipertengahan mandi karena wudhu tersebut tidak batal oleh hadats tapi batal oleh jima’ (bersetubuh), yakni sunnahnya sudah dikerjakan dan tidak lagi dituntut sampai ia memiliki hadats junub lagi.
  • Hal-hal yg disunnahkan diatas untuk mandi, tidak dibedakan antara mandi wajib dan mandi sunnah yakni disunnahkan untuk keduanya.
  • Setelah melakukan wudhu disunnahkan memperhatikan lipatan-lipatan yg ada ditubuh dan memastikannya terkena air seperti telinga, lipatan diperut, antara bokong kanan dan kiri, lubang pusat, ketiak, kedua sudut mata dll.
  • Cara terbaik untuk memastikan lipatan-lipatan telinga terkena air adalah dg mengambil air dg telapak tangan lalu memiringkan telinganya dan meletakkannya diair yg berada ditelapak tangannya.
  • Memastikan air telah mengenai bagian lipatan-lipatan diatas hukumnya sunnah dan bukan wajib karena wajibnya cukup dengan menyangka dengan sangkaan kuat bahwa air telah mengenai bagian-bagian tersebut.
  • Setelah memastikan bagian-bagian lipatan diatas telah terkena air maka sunnah selanjutnya adalah menyiram air ke bagian kepala 3x disertai dg takhlil (menyela-nyela rambut dg jari-jari tangan) juga mengurut-urutnya disetiap kali menyiram. Setelah itu menyiram bagian depan tubuh sebelah kanan 3x lalu bagian belakang sebelah kanan 3x dan dimulai dari bagian atas. Lalu menyiram bagian tubuh depan sebelah kiri 3x lalu bagian belakang juga. Inilah cara yg paling afdhol.
Inilah beberapa hal yg sunnah yg berkaitan dengan mandi, baik mandi wajib ataupun mandi sunnah.

Monday, November 12, 2018

SUNNAH-SUNNAH MANDI



Dikesempatan kali ini kita akan Membahas hal hal yang berkaitan dengan sunnah sunnah mandi.
Sunnah-sunnah mandi banyak sekali, dalam kitab Arrahimiyyah Disebutkan kurang lebih 28 sunnah bahkan sebagian ulama seperti al Imam Alfakihi Dalam kitabnya  syarah bidayatul hidayah menyebutkan lebih dari itu sebagaimana dikatakan oleh syekh Alkurdi.

Di sini kita akan menyebutkan beberapa diantaranya, dan beberapa nya juga tergolong banyak.
Mari kita perhatikan sunnah sunnah mandi berikut ini:
  1. Disunnahkan pipis terlebih dahulu sebelum mandi bagi seseorang yang mandi wajib karena mengeluarkan mani agar sisa dari mani yang ada di saluran kencing nya keluar semuanya.
  2. Menghadap kiblat, karena kiblat adalah arah yang paling mulia.
  3. Membaca Bismillah yang diiringi dengan mencuci kedua telapak tangan dan diringi juga dengan niat didalam hati yakni niat melaksanakan sunnah mandi, Ketiga hal ini dikerjakan secara bersamaan seperti halnya ketika berwudu.
  4. Sebelum membaca Bismillah Disunnahkan membaca Ta’awwuzd. Paling pendek Basmalah yang di baca afalah بسم الله Dan paling panjangnya adalah بسم الله الرحمن الرحيم. Untuk yang memiliki hadats junub hendaknya ketika ia membaca Basmalah diniatkan membaca Zikir agar terhindar dari dosa.
  5. Setelah cuci kedua tangan, membaca Basmalah dan berniat di dalam hati, Disunnahkan berkumur-kumur dan mencuci hidung, tidak mengerjakannya hukumnya makruh karena dimazhab kita mazhab syafii ada pendapat yang mewajibkannya sebagaimana disebutkan dalam kitab hasyiyah Alqolyubi, dan didalam kitab Albujairimi alal Khotib disebutkan bahwa Imam Ahmad mewajibkan berkumur-kumur dan mencuci hidung ketika mandi dan berwudhu, dan menurut imam Hanafi keduanya hukumnya wajib ketika mandi dan sunnah ketika berwudhu. Perlu diketahui bahwa membaca basmalah dan hal-hal setelahnya adalah sunnah tersendiri diluar sunnah-sunnah yg sama yang dilakukan ketika berwudhu
  6. Sunnah sebelum mandi terlebih dahulu menghilangkan kotoran suci dan kotoran najis, dg syarat tidak merubah sifat air dan tidak menghalangi air ke kulit dan najisnya adalah najis hukmi atau najis ‘ain yg sudah hilang benda najisnya dan sifat2nya dapat dihilangkan dengan sekali siram. Jika tidak terpenuhi syarat2 ini maka bukanlah sunnah hukumnya tapi bahkan wajib terlebih dulu menghilangkannya sebelum mandi.
  7. Sunnah berwudhu setelah membersihkan kotoran suci dan najis. Boleh juga dilakukan setelah mandi dan bahkan boleh dilakukan dipertengahan mandi tapi yang lebih afdhol adalah dilakukan sebelum mandi
  8. Makruh hukumnya meninggalkan wudhu ini untuk keluar menghindari perdebatan ulama yg mengatakan wajib hukumnya wudhu ini. Wudhu ini diniatkan sunnah seperti نويت الوضوء المسنون للغسل لله تعالى atau نويت الوضوء لسنة الغسل لله تعالى atau نويت الطهارة لسنة الغسل لله تعالى dan tidak cukup نويت السنة للغسل لله تعالى tanpa menyebutkan kalimat wudhu. Niat ini digunakan jika pada dirinya hanya ada hadats besar saja tanpa ada hadats kecil.
  9. Jika pada dirinya ada dua hadats yaitu kecil dan besar (umumnya demikian) dan wudhunya dilakukan sebelum mandi maka niat yg digunakan dalam wudhu tersebut sama dengan niat-niat wudhu lainnya seperti نويت رفع الحدث الاصغر tapi jika wudhunya dilakukan setelah mandi maka bisa digunakan niat-niat sunnah diatas. Tapi dalam kitab busyrol karim disebutkan boleh saja menggunakan niat نويت رفع الحدث الاصغر secara mutlak baik ada dua hadats atau hanya hadats besar saja, baik wudhunya dilakukan sebelum mandi atau sesudah mandi.
  10. Disunnahkan terus dalam keadaan suci dari hadats kecil sampai selesainya mandi bahkan jika batal wudhunya dipertengahan mandi disunnahkan berwudhu kembali menurut syekh ibnu hajar dan tidak demikian menurut syekh romli
  11. Sunnah setelah wudhu memperhatikan lipatan-lipatan yang ada dibadan seperti ketiak, lipatan perut, lipatan bokong, lubang pusar dll, dengan memastikan bahwa air mengenai tempat-tempat tersebut.
  12. Untuk bagian lubang telinga maka cara yang paling afdhol untuk memastikan air merata keseluruh bagian telinga yg wajib dibasuh adalah dengan mengambil air dengan telapak tangannya lalu memiringkan kepalanya dan meletakkan telinganya diatas air yg ada di telapak tangan tersebut sehingga air membasahi lipatan telinga dengan rata dan tidak membuat air masuk kedalam telinga sehingga membahayakan
Semoga bermanfaat...

Tuesday, October 23, 2018

RUKUN MANDI, meratakan air keseluruh badan




Setelah membahas seputar niat mandi di artikel yang lalu tibalah saatnya kita membahas rukun mandi yang kedua dan yang terakhir yaitu meratakan air ke seluruh badan.

Wajib meratakan air keseluruh bagian badan bahkan pada hal-hal berikut ini:
  • Kuku dan bagian yg ada dibawah kuku
  • Rambut, baik yang tebal atau yang tipis
  • 2 lubang telinga yang terlihat
  • Bagian kelamin wanita yg terlihat ketika ia duduk nangkrong
  • Bagian ujung kelamin laki-laki yang tertutup kuluf (kulit kelamin yg belum disunat) bagitu juga bagian bawah kulufnya
Tapi tidak diwajibkan meratakan air pada hal-hal berikut:
  • Bagian dalam mulut
  • Bagian dalam hidung
  • Mata
  • Buku yang tumbuh didalam hidung dan mata (bukan bulu mata)
Adapun bagian bawah kuku wajib dikenai air ketika mandi dan jika didapat adanya kotoran maka hukumnya telah disebutkan didalam artikel yg lalu baca disini.

Rambut dan bulu-bulu yang ada dibagian luar tubuh harus dibasahi semuanya dan diratakan dengan air walaupun tebal karena tidak didapat adanya kesulitan yang berarti karena mandi wajib ini tidak dilakukan sering kali, maka wajib menyela-nyela jenggot yg yebal begitu juga bewok yang tebal dengan jari-jari tangan ketika air tidak bisa sampai ke bagian dalam jenggot dan bewok kecuali dengan disela-sela dengan jari.

lain halnya dalam masalah wudhu, jenggot dan bewok yg tebal tidak harus dibasuh kecuali hanya bagian luarnya saja karena jika diwajibkan bagian dalam juga diratakan dengan air maka akan didapatkan adanya kesulitan karena wudhu dilakukan sering kali bahkan setiap hari bisa lima kali dikerjakan.

Hukum rambut yang dikepang
Rambut yang dikepang, jika air tidak dapat merata kebagian dalam rambut jika tidak dibuka kepangannya maka wajib membuka kepangan rambutnya agar air dapat merata keseluruh helai rambutnya.

Adapun rambut yang bergulung dengan sendirinya atau keriting dengan sendirinya tanpa dibuat-buat maka dimaaf jika air tidak merata kebagian dalam lipatan rambut yg menggulung tersebut.

Tapi jika rambut itu menggulung karena dibuat-buat oleh pemiliknya seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian wanita disalon-salon maka bagian dalam rambut yang tidak terkena air tidak dimaaf secara mutlak baik rambut yg tidak terkena air itu sedikit ataupun banyak, dan ada pendapat yg mengatakan dimaaf hal itu jika bagian dalam rambut yang tidak terkena air hanya sedikit saja.

Lubang anting ditelinga
Termasuk bagian yang harus diratakan dengan air adalah lubang anting, maka harus diperhatikan bahwa lubang tersebut sudah terkena air ketika mandi wajib agar mandi wajibnya sah.
Begitu juga sama hukumnya jika yang dikubangi adalah bagian hidungnya

Hukum melubangi anak telinga dan hidung
Untuk wanita dibolehkan melubangi anak telinga untuk digantungkan perhiasan anting-anting adapun melubangi hidung untuk digantungkan hal yang sama maka hukumnya haram.

Begitupun haram dilakukan terhadap bayi laki-laki, adapun bayi perempuan dibolehkan melubangi anak telinganya.

Adapun laki-laki yang melubangi anak telinga dan hidungnya atau bagian wajah yang lainnya maka haram hukumnya karena menyerupai wanita dalam melubangi anak telinga.

Jika ditemukan ada sesuatu yang menghalangi air ditubuhnya setelah selesai mandi, seperti ditemukan kulit ikan atau cat atau lilin dsb dan diketahui betul bahwa hal-hal itu sudah ada sewaktu ia mandi maka cukup ia hilangkan dari tubuhnya dan membasuh kulit yang sebelumnya tertutup benda-benda tersebut dengan air setelah dihilangkan dan tidak wajib mengulang mandinya, karena tidak diwajibkan tertib (berurutan) ketika mandi wajib lain halnya ketika berwudhu.

Rukun mandi ketiga
Rukun ketiga yaitu menghilangkan najis yang ada dibadan terlebih dulu sebelum mandi.
Hal ini dimasukkan dalam rukun mandi menurut pendapat imam Rofi’i adapun menurut pendapat imam Nawawi maka tidak disyaratkan sebelum mandi menghilangkan najis terlebih dahulu.

Itupun jika najis yang ada dibadan dapat hilang dengan sekali siraman air, yaitu jika najisnya najis hukmiyyah atau najis ainiyyah tapi sudah tidak ada benda najisnya dan sifat-sifatnya baik warna, bau dan rasanya dapat hilang dengan sekali siram dan air yg disiramkan tidak berubah sifat-sifatnya. 

Adapun jika najisnya najis ainiyyah dan benda najisnya masih ada, atau sudah hilang benda najisnya tapi sifat-sifat najis tersebut tidak hilang dengan sekali siram atau bisa hilang tapi air yg digunakan untuk menyiramnya menjadi berubah salah satu sifatnya maka wajib ketika itu menghilangkan najis dahulu sebelum mandi dan imam Nawawi dan imam Rofi’i sepakat dalam hal ini.

Inilah rukun-rukun wudhu yg harus dupenuhi ketika mandi agar mandi wajib seseorang menjadi sah.