tipis

Saturday, July 28, 2018

HAL-HAL YG MEWAJIBKAN MANDI, masuknya hasyafah kedalam kemaluan



Setelah di artikel sebelumnya kita bahas masalah hal yg mewajibkan mandi yg pertama yaitu keluarnya mani, saatnya sekarang kita melanjutkan dengan membahas hal kedua yg mewajibkan mandi, yaitu MASUKNYA HASYAFAH KEDALAM KEMALUAN.

Kepala kelamin yang juga disebut dalam ilmu fiqih dengan istilah hasyafah, jika masuk seluruhnya kedalam sebuah kemaluan maka hal itu mewajibkan mandi, baik mengeluarkan mani ataukah tidak.

Dan yang wajib mandi dalam hal ini adalah orang yg memasukkan kepala kelaminnya kedalam kemaluan lainnya dan juga wajib mandi atas orang yg dimasukkan kemaluannya itu. 

Jadi keduanya wajib mandi dan bukan hanya salah satunya saja.

Tapi ulama mengecualikan beberapa sosok yg tidak wajib mandi padahal ada kepala kelamin yg masuk kedalam kemaluannya, sosok itu adalah:
  1. Hewan, jika ada seseorang memasukkan kepala kelaminnya kedalam kemaluan binatang -na’uzubillah min dzalik- maka binatang itu tidak wajib dimandikan.
  2. Mayat, bila seseorang sudah wafat alias sudah menjadi mayat dan sudah dimandikan lalu ada seseorang memperkosanya maka mayat itu tidak wajib dimandikan lagi. 
Tapi jika seseorang dimasukkan kedalam kemaluannya baik kemaluan depan atau belakang oleh kepala kelamin lain baik kepala kelamin manusia atau binatang bahkan jika itu kepala kelamin mayat, maka yang bersangkutan wajib mandi.

Lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
  • jika ada orang disodomi baik laki-laki atau wanita maka yg disodomi wajib mandi sebagaimana pelaku sodomi juga wajib mandi
  • Jika seseorang memasukkan kelamin binatang kedalam kelaminnya baik kelamin depan atau belakang maka ia wajib mandi.
  • Jika ada seseorang memasukkan kelamin mayat kedalam kelaminnya baik kelamin depan atau belakang maka ia wajib mandi
Bagaimana jika menggunakan kondom?
Jawabannya jelas yaitu wajib mandi ketika seseorang memasukkan kepala kelaminnya kedalam kemaluan lain walaupun ia menggunakan kondom.

Bagaimana jika sebagian kelaminnya terputus?
kelamin yg terputus sebagiannya, jika telah masuk kedalam kelamin lain dan ukurannya yg masuk itu seukuran kepala kelamin normal lain maka ia wajib mandi tapi jika yg masuk hanya sedikit dan tdk sampai ukuran kepala kelamin maka tidak wajib mandi.




Monday, July 23, 2018

HAL-HAL YG MEWAJIBKAN MANDI, keluarnya mani



Hal yang sangat penting yang juga harus diketahui oleh seluruh muslim dan muslimah terutama yang sudah baligh atau cukup umur adalah hal-hal yg mewajibkan seseorang mandi.

Langsung saja tidak bertele-tele kita bahas hal yg pertama yg mewajibkan mandi yaitu KELUARNYA MANI.

Jika seseorang mengeluarkan mani -baik laki-laki atau wanita- dari kemaluan depannya maka ia wajib mandi untuk mengangkat hadats besar yg ada pada badannya.

Kewajiban ini datang langsung dari Allah swt, didalam firmanNya Allah berfirman:

وان كنتم جنبا فاطهروا
“Jika kalian junub maka mandilah”

didalam ayat diatas Allah katakan dengan bentuk perintah dan perintah menunjukkan kewajiban maka dengan demikian mandipun menjadi wajib.

Keluar mani mewajibkan mandi, apakah mani itu keluar karena masuknya kelamin kedalam lubang kelamin lain ataukah tidak, bahkan ulama mengatakan walaupun mani yang keluar berwarna merah darah asalkan ditemukan salah satu alamat-alamat berikut:
  1. Keluarnya muncrat
  2. Dirasakan lezat ketika keluar
  3. Tercium aroma adonan atau aroma pentil kurma ketika mani itu masih basah dan ketika kering tercium aroma putih telur.
Jika ketiga alamat diatas tidak ditemukan maka cairan itu bukanlah mani tapi jika ditemukan salah satunya maka cairan itu adalah mani.

Jika seseorang ragu apakah cairan yg keluar itu mani ataukah mazi atau wadi maka dia boleh memilih menjadikannya mani lalu mandi dan boleh ia memilih lainnya lalu mencuci yg terkena cairan itu dan berwudhu tanpa harus mandi.

Jalan yg lebih baik lagi mengambil keduanya yaitu dengan mencuci sesuatu yg terkena cairan tersebut dan juga mandi dari hadats junub agar keluar dari perbedaan pendapat ulama.

Apakah batasan keluar mani untuk laki-laki dan wanita?

Batas keluarnya mani dari kelamin laki-laki dan wanita berbeda, bahkan berbeda batasan antara wanita yg masih gadis dengan yang sudah janda.

Adapun untuk laki-laki disyaratkan keluar mani itu sampai keluar dari ujung kelaminnya yang disebut dengan hasyafah, sedangkan untk wanita yang masih gadis batasan keluarnya adalah melewati selaput daranya sedangkan untuk janda harus keluar sampai ketempat yang wajib dibasuh ketika beristinja yaitu bagian kelamin yang terlihat ketika ia duduk diatas kedua kakinya (nongkrong)

Yang mewajibkan mandi adalah mani miliknya sendiri yg keluar dari kelaminnya pertama kali adapun mani orang lain yg keluar dari lubang kelamin depannya atau belakangnya tidak mewajibkan mandi. maka wanita yg tidak mengalami orgasme ketika melakukan hubungan badan lalu setelah mandi keluar mani dari kemaluannya, hal itu tidak mewajibkannya mandi kedua kali karena yg keluar adalah mani orang lain bukan mani miliknya.

Begitu juga mani yg keluar untuk kedua kalinya tdk mewajibkan mandi, maksudnya jika mani yg keluar lalu dimasukkan kembali kedalam kelamin dengan perantara alat seperti alat suntik misalnya lalu keluar lagi setelah itu maka keluarnya untuk kedua kalinya tidak mewajibkan mandi.

Dari penjelasan diatas perlu diwaspadai bagi setiap yg mengeluarkan mani agar sebelum mandi melakukan pipis dulu agar sisa mani yg ada di batang kemaluannya keluar semua sehingga tidak lagi terkena kewajiban mandi lagi jika ada sisa yg kembali keluar setelah ia mandi karena tidak pipis terlebih dahulu.

Monday, May 7, 2018

HAL-HAL YG MAKRUH KETIKA WUDHU



Setelah membahas beberapa hal yang disunnahkan ketika wudhu atau sebelumnya atau sesudahnya tiba saatnya kita membahas hal-hal yang dimakruhkan ketika wudhu.

Tapi sebelum itu perlu kita tahu apa itu makruh...

Makruh menurut bahasa artinya hal yang dibenci, sedangkan para ulama fiqih memberikan definisi makruh yaitu
ما يثاب على تركه امتثالا ولا يعاقب على فعله
“Sesuatu yang diberikan pahala karena meninggalkannya dengan maksud mengerjakan perintah Allah dan tidak berdosa karena mengerjakannya”

Makruh ini tidak mendatangkan dosa jika dikerjakan tapi para ulama sholihin selalu menghindari makruh karena hal itu mendatangkan pahala.

Perlu diperhatikan bahwa yang mendatangkan pahala ketika kita meninggalkan hal yg makruh adalah jika diiringi niat mengerjakan perintah Allah, karena dalam hal yg makruh ada larangan mengerjakannya walaupun larangan itu tidak sekuat larangan hal yg diharamkan.

Adapun jika ditinggalkan hal yg makruh karena hal lain maka pahalanyapun tidak didapat. Sebagai contoh meninggalkan merokok bagi yang mengatakan merokok itu makruh hukumnya.

Seseorang yang tidak merokok dg niat dan maksud karena menghindari penyakit sebab merokok mendatangkan banyak penyakit maka pilihan niat itu membuatnya tidak mendatangkan pahala.
Begitupun ketika seseorang meninggalkan hal-hal yang makruh yang ada ketika wudhu. 

Naah itulah sedikit seputar makruh...

Kalu apa saja hal-hal yang dimakruhkan ketika wudhu..??

Inilah diantaranya:
  • Mendahulukan yang kiri dari yang kanan.
Artinya ketika membasuh kedua tangan lalu ia memulainya dengan membasuh tangan kiri maka perbuatannya itu makruh hukumnya walaupun sah wudhunya.
Begitupun disemua pekerjaan wudhu yg disunnahkan mendahulukan kanan dari kiri.

Adapun yang tidak disunnahkan mendahulukan kanan dari kiri maka tldak berlaku hukum makruh sebagaimana tidak berlaku hukum sunnah. Contohnya membasuh wajah dan mengusap telinga, kedua hal ini tidak disunnahkan mendahulukan kanan maka tidak dimakruhkan mendahulukan kiri karena seharusnya membasuh semua muka secara bersamaan dan mengusap kedua telinga secara bersamaan.

Dalil dimakruhkan memulai yg kiri sebelum kanan diambil dari perintah memulai dg kanan didalam wudhu dari hadits yg diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dalam shohih mereka, Rasul bersabda:
واذا توضأتم فابدءوا بميامنكم
“Dan jika kalian berwudhu maka mulailah denga kanan kalian”
Ketika Rasul memerintahkan kita memulai dengan yg kanan ketika berwudhu maka dimakruhkan memulainya dengan yg kiri.

  • Berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung dengan kuat. Hal ini dimakruhkan hanya untuk yang sedang menjalankan puasa adapun yang sedang tidak berpuasa malah disunnahkan untuknya.
  • Meminta seseorang mewudhukan dirinya tanpa ia memiliki uzur syar’i.
Sebenarnya ada beberapa hukum meminta bantuan orang lain dalam wudhu, yaitu
  1. Makruh, pada hal yg yelah disebutkan
  2. Mubah, untuk yang minta didatangkan air untuk berwudhu
  3. Khilaful awla, untuk yang minta diguyurkan air ketika berwudhu
  4. Wajib, untuk orang yang sakit yang tidak mampu berwudhu sendiri tanpa bantuan orang lain.
  • Berlebihan dalam menggunakan air wudhu walaupun ia berwudhu dari air laut sekalipun ketika berada ditepi pantai.
  • Melebihi 3x dalam basuhan atau usapan atau kurang dari 3x, itu jika air yg digunakan berwudhu miliknya sendiri atau bukan milik siapa2 tapi jika air yang digunakan untuk wudhu berasal dari air yang diwakafkan khusus untuk wudhu lalu cucian atau usapannya secara yakin lebih dari 3x maka haram hukumnya.
Itulah beberapa hal yang dimakruhkan ketika berwudhu.