tipis

Tuesday, November 12, 2019

HAL-HAL YG DIHARAMKAN SEBAB HADATS JUNUB DAN WILADAH (MELAHIRKAN)


Ulama ada yg membagi hadats kepada 2 bagian yaitu hadats kecil dan hadats besar dan ada juga yang membagi hadats kepada 3 bagian yaitu hadats kecil, hadats pertengahan dan hadats besar.

disini penulis akan memilih pendapat ulama kedua yg membagi hadats kepada 3 bagian sehingga pembahasannya akan menjadi lebih rinci lagi dan terfokus.

Hadats pertengahan yang dimaksud adalah hadats janabah atau junub dan hadats wiladah atau melahirkan.

Hal-hal yang diharamkan ketika seseorang mempunyai hadats pertengahan ini sebagiannya adalah hal-hal yg diharamkan juga sebab hadats kecil yg telah dibahas dalam tulisan yg lalu. pembaca bisa klik disini untuk mengetahui apa saja yg diharamkan sebab hadats kecil yg berjumalah 5 hal.

kita akan melanjutkan hal-hal apa saja yg diharamkan selanjutnya yg disebabkan oleh hadats pertengahan.


  • ke-enam : membaca Alqur'an
diharamkan membaca Alqur'an bagi mereka yg mempunyai hadats junub atau hadats wiladah walaupun yg dibaca hanya 1 huruf saja, ketika membaca huruf itu diniatkan Alqur'an.

sebagai contoh: ketika seorang berniat membaca bismillah lalu setelah membaca huruf "ba" lantas ia diam menghentikan bacaannya, maka haram hukum membacanya itu karena ia telah berniat maksiat dan sudah mulai mengerjakannya.

membaca Alqur'an bagi yg berhadats pertengahan haram hukumnya jika memenuhi syarat berikut:

  1. - jika yg membacanya sudah mukallaf
  2. - yg dibacanya adalah Alqur'an
  3. - hukum bacaannya adalah sunnah bukan wajib
  4. - jika dilafalkan dengan lisan
  5. - bacaannya terdengar oleh telinganya sendiri ketika tidak ada gangguan baik itu suara bising atau suara hiruk pikuk lainnya dan pendengarannya normal
  6. - diniatkan membaca Alqur'an atau membaca Alqur'an dan zikir.
jika terpenuhi semua syarat diatas maka hukum membaca Alqur'an untuk seorang yg berhadats junub atau wiladah hukumnya haram.

tapi jika tidak memenuhi salah satu syarat diatas maka tidaklah haram, yg berarti:
  1. bacaan anak kecil dan orang gila tidak haram
  2. jika yg dibaca bukan Alqur'an tidaklah haram misalnya membaca hadist qudsi atau membaca Taurat, Injil dan Zabur
  3. jika bacaaannya wajib tidaklah haram, misalnya orang yg tidak mendapatkan 2 alat suci yaitu air untuk berwudhu dan tanah berdebu untuk tayammum lalu melaksanakan sholat lima waktu tanpa wudhu dan tayammum dan membaca surat Alfatihah atau membaca ayat dalam khutbah jum'at.
  4. jika dibaca hanya didalam hati tidaklah haram
  5. jika hanya menggerakkan lisan dan bibirnya tanpa bersuara tidaklah haram
  6. jika bacaannya diniatkan zikir tidaklah haram, misalnya membaca ayat ketika naik kendaraan yaitu: 
سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وانا الى ربنا لمنقلبون
subhanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun
  • ke-tujuh : berdiam didalam masjid
berdiam di masjid diharamkan untuk yang memiliki hadats junub dan wiladah ketika ia sudah mencapai usia baligh, walaupun berdiam didalamnya hanya selama bacaan "subhanallah", ada ulama yg berpendapat diharamkan jika lamanya berdiam lebih dari bacaan "subhanallah" adapun jika kurang dari itu belum diharamkan

adapun seorang yg belum baligh maka dibolehkan berdiam di masjid dalam keadaan berhadats pertengahan dan boleh untuk walinya membiarkan sianak berdiam didalam masjid dg keadaannya demikian.

dibolehkan juga berdiam dimasjid dengan sebab-sebab berikut:
- karena darurat, misalnya jika seorang tidur didalam masjid lalu ia mengeluarkan mani dan ia tidak bisa keluar karena masjid dikunci dari luar, tidak ada orang yg dapat membukanya dan ia tidak mempunyai air untuk mandi.
- karena takut sesuatu, misalnya takut dari penagih hutang yang ada diluar masjid atau ada seorang diluar yg mencarinya untuk membunuhnya.

tapi jika memungkinkan ia bertayammum dalam kondisi diatas maka wajib bertayammum dg syarat tidak bertayammum dengan tanah masjid. dan yg dimaksud dg tanah masjid adalah tanah yg masuk dalam wakaf masjid.

jika memungkinkan mencuci sebagian tubuhnya dg air maka wajib itu dilakukan karena dalam kaidah fiqih disebutkan 
الميسور لا يسقط بالمعسور 


  • ke-delapan : mondar-mandir didalam masjid
mondar-mandir (taraddud) didalam masjid juga hal yg diharamkan untuk orang yg memiliki hadats junub atau wiladah. 

yg dimaksud dengan taraddud atau mondar-mandir yaitu masuk dari pintu masjid dan keluar dari pintu yg sama ketika ia masuk.

tapi dibolehkan jika diawal ia masuk masjid berniat untuk keluar dari pintu lain lalu secara tiba-tiba ia batalkan karena suatu hal dan kembali keluar dari pintu yg sama ketika ia masuk tanpa sama sekali berhenti didalam masjid.


Hukum lewat didalam masjid

lewat didalam masjid atau yang disebut dengan 'ubuur didalam istilah ilmu fiqih dibolehkan bagi yg mempunyai hadats junub atau wiladah.

dan maknanya 'ubuur atau lewat yakni masuk kedalam masjid dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya tanpa berhenti didalam masjid ketika ia lewat didalamnya.

jika masuknya kedalam masjid dan lewat karena ada hajat kebutuhan maka tidaklah makruh bahkan tidak juga khilaful awla, misalnya ia lewat dalam masjid karena jalan itu lebih dekat menuju tujuannya dibanding lewat jalan lainnya.

akan tetapi jika lewat dalam masjid tidak karena hajat tertentu maka hukum lewatnya khilaful awla (kurang bagus)

untuk wanita yg sedang haid haram hukumnya lewat didalam masjid jika dikhawatirkan adanya darah yg menetes didalam masjid sewaktu ia lewat sehingga mengotori masjid dan jika aman dari hal tersebut maka makruh hukumnya jika tanpa ada hajat kebutuhan ketika ia lewat tapi jika karena ada hajat dan aman dari hal yg dikhawatirkan diatas maka tidaklah makruh



Monday, November 4, 2019

PEMBAHASAN SEPUTAR MENYENTUH DAN MEMBAWA MUSHAF ALQUR'AN


Dalam keadaan berhadats kecil dan besar diharamkan seseorang menyentuh mushaf Alqur'an apalagi membawanya. begitulah hukumnya dalam ilmu figih mazhab imam syafi'i sebagaimana dibahas dalam artikel sebelumnya disini .

dalam tulisan kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang hukum membawa mushaf Alqur'an dalam keadaan berhadats, mari kita simak dengan baik...


  • membawa tafsir jalaalain.
sebagian ulama mengatakan bahwa yg ingin menjalani jalan wara' maka hendaklah ia tidak membawa tafsir jalaalain karena meskipun tafsir jalaalain jumlah hurufnya lebih banyak 2 huruf daripada Alqur'an tapi kemungkinan ketika dicetak ada hufuf yang tertinggal atau tidak tertuliskan karena kesalahan cetak sehingga mengakibatkan jumlah huruf Alqur'an lebih banyak daripada tafsir jalaalain itu sendiri.

itulah jalan wara'nya adapun jika ingin juga membawa tafsir jalaalain maka boleh saja jika diniatkan membawa mushaf saja, sama saja apakah tulisan mushaf berbeda warnanya dg tulisan tafsir jalaalain atau sama, karena tafsir jalaalain lebih banyak 2 huruf dari hufuf alqur'an.

tapi perlu diingat disini bahwa makna membawanya adalah membawa kitab tafsirnya bukan menyentuhkan tangannya ke sebagian halaman tafsir.

adapun jika menyentuhkan tangannya ke sebagian halaman tafsir maka diperhatikan apakah huruf-huruf yg dihalaman itu lebih banyak huruf Alqur'annya ataukah lebih banyak huruf-huruf tafsirnya, dengan itu barulah diberlakukan hukumnya.

jika huruf Alqur'annya lebih banyak maka haram menyentuhnya walaupun secara keseluruhan huruf-huruf tafsir lebih banyak dari huruf-huruf Alqur'annya.

tentunya jika demikian hukumnya menjadi lebih ketat tapi untungnya disebutkan didalam kita Bujairimi alal khotib bahwa ketika jumlah huruf tafsirnya secara keseluruhan lebih banyak daripada huruf tafsirnya maka boleh-boleh saja secara mutlak, artinya secara mutlak yaitu tidak haram menyentuh huruf-huruf Alqur'an yg ada didalam tafsir dan tidak haram juga menyentuh huruf-huruf tafsirn bahkan jika ia menyentuh keduanya tidaklah haram.

ini berlaku bukan hanya untuk tafsir jalaalain tapi juga disemua tafsir Alqur'an yg ada.

permbahasan hukum diatas berlaku jika tafsir dan Alqur'an bercampur tidak dipisahkan atas bawah misalnya atau samping kanan kiri seperti yg ada disebagian cetakan tafsir.


  • membawa mushaf dg catatan kaki
ulama berbeda pendapat tentang Alqur'an yg diberikan catatan kaki dibawah atau disampingnya, menurut syekh Romli bahwa itu sama hukumnya dengan tafsir sehingga perincian hukum tafsir diatas berlaku, sedangkan menurut syekh Al-'Alqomiy hukumnya haram secara mutlak dan dikuatkan oleh syekh Albujairimi karena kertas tersebut sebelum di berikan catatan kaki atau samping hukumnya haram dipegang maka begitu pula hukumnya setelah diberikan catatan.

begitu pula syekh Kurdi menukil dari syekh Ibnu Hajar yg mengatakan bahwa mushaf Alqur'an yg diberikan catatan kaki atau catatan pinggir walaupun memenuhi pinggiran mushaf tidak sama sekali dinamakan tafsir bahkan masih dinamakan mushaf hanya saja paling tidak dinamakan mushaf yg diberi catatan kaki atau pinggir, maka tidak haram membawanya.

tapi walaupun dibolehkan membawa tafsir Alqur'an jika tafsirnya lebih banyak dari Alqur'annya tetap saja hukumnya makruh karena masih ada perbendaan pendapat antar ulama seputar itu.

  • menggendong orang yg membawa mushaf
menggendong orang yg membawa mushaf sedangkan yg menggendongnya sedang berhadats diperdebatkan ulama boleh atau tidaknya menggendong orang itu disaat tersebut.

menurut syekh Romli secara mutlak hal itu dibolehkan dan tidak haram sedangkan syekh Ibnu Hajar mengatakan berlaku perincian hukum yg disebutkan ketika membawa mushaf bersama barang lainnya dalam masalah ini, perincian hukumnya yaitu boleh membawanya jika diniatkan membawa barang, begitu juga jika tidak diniatkan apapun, sedangkan jika diniatkan membawa keduanya yaitu membawa mushaf dan barang maka menurut pendapat yg mu'tamad (paling kuat) dibolehkan dan yg tidak boleh adalah jika diniatkan membawa mushaf saja, itu haram hukumnya.

sedangka syekh thoblawi mengatakan: "jika mushaf itu dinisbatkan kepada yg menggendong karena yg digendong yg sendang membawa mushaf adalah anak kecil maka haram hukum menggendongnya saat itu tapi jika yg digendong bukan anak kecil tidaklah demikian.

  • menyentuh kulit mushaf
kulit mushaf yg masih bersatu dg mushafnya artinya belum terlepas alias belum copot, hukumnya haram menurut pendapat yg mu'tamad karena ketika masih bersatu alias nempel dengan mushaf maka ia adalah bagian dari mushaf.

ada pendapaat lemah mengatakan tidaklah haram, alasannya karena kulit mushaf ini laksana wadahnya seperti kantong plastik atau tas.
tapi pendapat ini lemah karena dibangun atas dasar pendapat lemah juga yaitu boleh menyentuh tas atau wadah tempat mushaf dimana mushafnya ada didalamnya, sedangkan pendapat yg terkuat mengatakan hal itu haram, begitu disebutkan oleh syekh Qolyubi dalam hasyiyahnya.

adapun jika kulit itu sudah terlepas alias copot dari mushafnya.
menurut pendapat mu'tamad haram membawa kulit ini selama masih disebut itu adalah kulit mushaf, sedangkan jika sudah tidak lagi dikatakan itu kulit mushaf karena sudah dijadikan kulit kitab lainnya walaupun masih tertulis alamat-alamat itu dulunya adalah mushaf seperti tulisan Alqur'anul Karim dan sebagainya maka dibolehkan menyentuhnya dan membawanya tanpa bersuci.

ada pendapat lemah dalam masalah ini yg mengatakan bahwa boleh saja membawa kulit itu dan menyentuhnya walau masih disebut kulit mushaf.

Thursday, July 18, 2019

SUNNAH-SUNNAH MANDI



Dikesempatan kali ini kita akan Membahas hal hal yang berkaitan dengan sunnah sunnah mandi.
Sunnah-sunnah mandi banyak sekali, dalam kitab Arrahimiyyah Disebutkan kurang lebih 28 sunnah bahkan sebagian ulama seperti al Imam Alfakihi Dalam kitabnya  syarah bidayatul hidayah menyebutkan lebih dari itu sebagaimana dikatakan oleh syekh Alkurdi.

Di sini kita akan menyebutkan beberapa diantaranya, dan beberapa nya juga tergolong banyak.
Mari kita perhatikan sunnah sunnah mandi berikut ini:
  1. Disunnahkan pipis terlebih dahulu sebelum mandi bagi seseorang yang mandi wajib karena mengeluarkan mani agar sisa dari mani yang ada di saluran kencing nya keluar semuanya.
  2. Menghadap kiblat, karena kiblat adalah arah yang paling mulia.
  3. Membaca Bismillah yang diiringi dengan mencuci kedua telapak tangan dan diringi juga dengan niat didalam hati yakni niat melaksanakan sunnah mandi, Ketiga hal ini dikerjakan secara bersamaan seperti halnya ketika berwudu.
  4. Sebelum membaca Bismillah Disunnahkan membaca Ta’awwuzd. Paling pendek Basmalah yang di baca afalah بسم الله Dan paling panjangnya adalah بسم الله الرحمن الرحيم. Untuk yang memiliki hadats junub hendaknya ketika ia membaca Basmalah diniatkan membaca Zikir agar terhindar dari dosa.
  5. Setelah cuci kedua tangan, membaca Basmalah dan berniat di dalam hati, Disunnahkan berkumur-kumur dan mencuci hidung, tidak mengerjakannya hukumnya makruh karena dimazhab kita mazhab syafii ada pendapat yang mewajibkannya sebagaimana disebutkan dalam kitab hasyiyah Alqolyubi, dan didalam kitab Albujairimi alal Khotib disebutkan bahwa Imam Ahmad mewajibkan berkumur-kumur dan mencuci hidung ketika mandi dan berwudhu, dan menurut imam Hanafi keduanya hukumnya wajib ketika mandi dan sunnah ketika berwudhu. Perlu diketahui bahwa membaca basmalah dan hal-hal setelahnya adalah sunnah tersendiri diluar sunnah-sunnah yg sama yang dilakukan ketika berwudhu
  6. Sunnah sebelum mandi terlebih dahulu menghilangkan kotoran suci dan kotoran najis, dg syarat tidak merubah sifat air dan tidak menghalangi air ke kulit dan najisnya adalah najis hukmi atau najis ‘ain yg sudah hilang benda najisnya dan sifat2nya dapat dihilangkan dengan sekali siram. Jika tidak terpenuhi syarat2 ini maka bukanlah sunnah hukumnya tapi bahkan wajib terlebih dulu menghilangkannya sebelum mandi.
  7. Sunnah berwudhu setelah membersihkan kotoran suci dan najis. Boleh juga dilakukan setelah mandi dan bahkan boleh dilakukan dipertengahan mandi tapi yang lebih afdhol adalah dilakukan sebelum mandi
  8. Makruh hukumnya meninggalkan wudhu ini untuk keluar menghindari perdebatan ulama yg mengatakan wajib hukumnya wudhu ini. Wudhu ini diniatkan sunnah seperti نويت الوضوء المسنون للغسل لله تعالى atau نويت الوضوء لسنة الغسل لله تعالى atau نويت الطهارة لسنة الغسل لله تعالى dan tidak cukup نويت السنة للغسل لله تعالى tanpa menyebutkan kalimat wudhu. Niat ini digunakan jika pada dirinya hanya ada hadats besar saja tanpa ada hadats kecil.
  9. Jika pada dirinya ada dua hadats yaitu kecil dan besar (umumnya demikian) dan wudhunya dilakukan sebelum mandi maka niat yg digunakan dalam wudhu tersebut sama dengan niat-niat wudhu lainnya seperti نويت رفع الحدث الاصغر tapi jika wudhunya dilakukan setelah mandi maka bisa digunakan niat-niat sunnah diatas. Tapi dalam kitab busyrol karim disebutkan boleh saja menggunakan niat نويت رفع الحدث الاصغر secara mutlak baik ada dua hadats atau hanya hadats besar saja, baik wudhunya dilakukan sebelum mandi atau sesudah mandi.
  10. Disunnahkan terus dalam keadaan suci dari hadats kecil sampai selesainya mandi bahkan jika batal wudhunya dipertengahan mandi disunnahkan berwudhu kembali menurut syekh ibnu hajar dan tidak demikian menurut syekh romli
  11. Sunnah setelah wudhu memperhatikan lipatan-lipatan yang ada dibadan seperti ketiak, lipatan perut, lipatan bokong, lubang pusar dll, dengan memastikan bahwa air mengenai tempat-tempat tersebut.
  12. Untuk bagian lubang telinga maka cara yang paling afdhol untuk memastikan air merata keseluruh bagian telinga yg wajib dibasuh adalah dengan mengambil air dengan telapak tangannya lalu memiringkan kepalanya dan meletakkan telinganya diatas air yg ada di telapak tangan tersebut sehingga air membasahi lipatan telinga dengan rata dan tidak membuat air masuk kedalam telinga sehingga membahayakan
Semoga bermanfaat...