tipis

Thursday, July 18, 2019

SUNNAH-SUNNAH MANDI



Dikesempatan kali ini kita akan Membahas hal hal yang berkaitan dengan sunnah sunnah mandi.
Sunnah-sunnah mandi banyak sekali, dalam kitab Arrahimiyyah Disebutkan kurang lebih 28 sunnah bahkan sebagian ulama seperti al Imam Alfakihi Dalam kitabnya  syarah bidayatul hidayah menyebutkan lebih dari itu sebagaimana dikatakan oleh syekh Alkurdi.

Di sini kita akan menyebutkan beberapa diantaranya, dan beberapa nya juga tergolong banyak.
Mari kita perhatikan sunnah sunnah mandi berikut ini:
  1. Disunnahkan pipis terlebih dahulu sebelum mandi bagi seseorang yang mandi wajib karena mengeluarkan mani agar sisa dari mani yang ada di saluran kencing nya keluar semuanya.
  2. Menghadap kiblat, karena kiblat adalah arah yang paling mulia.
  3. Membaca Bismillah yang diiringi dengan mencuci kedua telapak tangan dan diringi juga dengan niat didalam hati yakni niat melaksanakan sunnah mandi, Ketiga hal ini dikerjakan secara bersamaan seperti halnya ketika berwudu.
  4. Sebelum membaca Bismillah Disunnahkan membaca Ta’awwuzd. Paling pendek Basmalah yang di baca afalah بسم الله Dan paling panjangnya adalah بسم الله الرحمن الرحيم. Untuk yang memiliki hadats junub hendaknya ketika ia membaca Basmalah diniatkan membaca Zikir agar terhindar dari dosa.
  5. Setelah cuci kedua tangan, membaca Basmalah dan berniat di dalam hati, Disunnahkan berkumur-kumur dan mencuci hidung, tidak mengerjakannya hukumnya makruh karena dimazhab kita mazhab syafii ada pendapat yang mewajibkannya sebagaimana disebutkan dalam kitab hasyiyah Alqolyubi, dan didalam kitab Albujairimi alal Khotib disebutkan bahwa Imam Ahmad mewajibkan berkumur-kumur dan mencuci hidung ketika mandi dan berwudhu, dan menurut imam Hanafi keduanya hukumnya wajib ketika mandi dan sunnah ketika berwudhu. Perlu diketahui bahwa membaca basmalah dan hal-hal setelahnya adalah sunnah tersendiri diluar sunnah-sunnah yg sama yang dilakukan ketika berwudhu
  6. Sunnah sebelum mandi terlebih dahulu menghilangkan kotoran suci dan kotoran najis, dg syarat tidak merubah sifat air dan tidak menghalangi air ke kulit dan najisnya adalah najis hukmi atau najis ‘ain yg sudah hilang benda najisnya dan sifat2nya dapat dihilangkan dengan sekali siram. Jika tidak terpenuhi syarat2 ini maka bukanlah sunnah hukumnya tapi bahkan wajib terlebih dulu menghilangkannya sebelum mandi.
  7. Sunnah berwudhu setelah membersihkan kotoran suci dan najis. Boleh juga dilakukan setelah mandi dan bahkan boleh dilakukan dipertengahan mandi tapi yang lebih afdhol adalah dilakukan sebelum mandi
  8. Makruh hukumnya meninggalkan wudhu ini untuk keluar menghindari perdebatan ulama yg mengatakan wajib hukumnya wudhu ini. Wudhu ini diniatkan sunnah seperti نويت الوضوء المسنون للغسل لله تعالى atau نويت الوضوء لسنة الغسل لله تعالى atau نويت الطهارة لسنة الغسل لله تعالى dan tidak cukup نويت السنة للغسل لله تعالى tanpa menyebutkan kalimat wudhu. Niat ini digunakan jika pada dirinya hanya ada hadats besar saja tanpa ada hadats kecil.
  9. Jika pada dirinya ada dua hadats yaitu kecil dan besar (umumnya demikian) dan wudhunya dilakukan sebelum mandi maka niat yg digunakan dalam wudhu tersebut sama dengan niat-niat wudhu lainnya seperti نويت رفع الحدث الاصغر tapi jika wudhunya dilakukan setelah mandi maka bisa digunakan niat-niat sunnah diatas. Tapi dalam kitab busyrol karim disebutkan boleh saja menggunakan niat نويت رفع الحدث الاصغر secara mutlak baik ada dua hadats atau hanya hadats besar saja, baik wudhunya dilakukan sebelum mandi atau sesudah mandi.
  10. Disunnahkan terus dalam keadaan suci dari hadats kecil sampai selesainya mandi bahkan jika batal wudhunya dipertengahan mandi disunnahkan berwudhu kembali menurut syekh ibnu hajar dan tidak demikian menurut syekh romli
  11. Sunnah setelah wudhu memperhatikan lipatan-lipatan yang ada dibadan seperti ketiak, lipatan perut, lipatan bokong, lubang pusar dll, dengan memastikan bahwa air mengenai tempat-tempat tersebut.
  12. Untuk bagian lubang telinga maka cara yang paling afdhol untuk memastikan air merata keseluruh bagian telinga yg wajib dibasuh adalah dengan mengambil air dengan telapak tangannya lalu memiringkan kepalanya dan meletakkan telinganya diatas air yg ada di telapak tangan tersebut sehingga air membasahi lipatan telinga dengan rata dan tidak membuat air masuk kedalam telinga sehingga membahayakan
Semoga bermanfaat...

SUNNAH-SUNNAH WUDHU, mencuci kedua telapak tangan

Setelah pembahasan sunnah wudhu pertama diartikel yg lalu, mari kita bahas sunnah wudhu berikutnya yaitu mencuci kedua telapak tangan.

Batas mencuci kedua telapak tangan yg disunnahkan adalah mencuci keduanya sampai dengan pergelangan tangan.

Ketika mencuci kedua telapak tangan disunnahkan juga berniat dan membaca bismillah, jadi ada tiga hal sunnah yang dilakukan bersamaan, pertama mencuci kedua telapak tangan, kedua berniat melakukan sunnah wudhu dan niatnya dilakukan didalam hati, ketiga membaca bismillah.

Sehingga dalam satu waktu kita telah menyatukan antara amalan lisan, amalan anggota badan dan amalan hati. Amalan lisan yaitu dengan melafalkan bismillah, amalan anggota badan yaitu dengan mencuci kedua telapak tangan dan amalan hati yaitu dengan berniat sunnah wudhu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa niat itu wajibnya dengan hati dan sunnah dilafalkan dengan lisan. Muncul pertanyaan disini, bagaimana kita melafalkan niat dg lisan sedangkan lisan sibuk dengan bacaan bismillah. Dalam hal ini didapat 2 pendapat ulama:
* Pertama, pendapatnya syekh Romli dan Alkhotib Asy-syarbini yaitu melafalkan niatnya ketika sudah selesai melafalkan bismillah.
* Kedua, melafalkan niatnya sebelum melafalkan bismillah sebagaimana ketika akan bertakbirotul ihram ketika akan sholat ia lafalkan niat sholatnya sebelum takbiratul ihram ‏ kemudian ia baca Bismillah dibarengi dengan niat didalam hati seperti halnya ketika ia Akan sholat ia iringi takbiratul ihrom dengan niat Sholat didalam hati.

Mencuci kedua telapak tangan, jika air dibejana sedikit dimasukkan keduanya kedalam air atau disiram dg air?

keduanya boleh dilakukan, hanya ada hal-hal yg perlu diperhatikan ketika memasukkan keduanya kedalam air:
- mencuci kedua telapak tangannya 3x sebelum ia memasukkan keduanya kedalam air yg sedikit jika ia ragu akan kesucian keduanya atau tidak yakin alias hanya menyangka kesuaciannya.
- makruh memasukkan kedua telapak tangannya dalam keadaan diatas yaitu ketika ragu atau tidak yakin keduanya suci
- jika ia yakin keduanya mutanajjis maka wajib mencuci keduanya terlebih dulu
- haram hukumnya memasukkan keduanya jika ia yakin keduanya mutanajjis
- jika ia yakin keduanya suci maka tidak sunnah mencuci keduanya sebelum memasukkan keduanya kedalam air sedikit.

Dasar hukum diatas adalah sebuah hadits riwayat imam Bukhori dan Muslim dalam shohih keduanya dari sayyidina Abu Hurairah RA bahwa Nbai SAW bersabda:

اذا استيقظ احدكم من نومه فلا يغمس يده في الاناء حتى يغسلها ثلاثا فانه لا يدري اين باتت يده منه

“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah ia masukkan tangannya kedalam bejana sampai ia mencucinya 3x sungguh ia tidak tahu dimana tangannya bermalam”

Sebab hadits ini seperti yg disebutkan oleh imam Syafii bahwa penduduk Hijaz dulu beristinja dg batu dan ketika negri mereka negri yg panas maka ketika mereka tidur mereka berkeringat dan ketika mereka berkeringat tangan mereka tidak dapat dipastikan tidak bergerak ke tempat yg terdapat najis sehingga tangan mereka terkena najis.


Tuesday, July 16, 2019

HAL-HAL YG DIHARAMKAN SEBAB HADATS KECIL


Sebagaimana diketahui bahwa hadats itu terbagi kepada 2 bagian yaitu hadats kecil dan hadats besar, dan sebagian ulama membagi hadats kepada 3 bagian yaitu hadats kecil, pertengahan dan besar.

Nah kali ini kita akan membahas terlebih dahulu apa saja yg haram dilakukan ketika seseorang memiliki hadats kecil, berikut penjelasannya...

yg haram dilakukan ketika memiliki hadats kecil adalah sebagai berikut:

  1. sholat, baik itu sholat wajib ataupun sholat sunnah.
haram seseorang melakukan sholat ketika memiliki hadats kecil dan bukan sekedar haram dan berdosa tapi sholatnya juga tidak sah walaupun ia tidak mengetahuinya atau lupa akan hal ini.

tapi ada 2 orang yg dikecualikan, dimana ia memiliki hadats tapi sholatnya sah dan tentunya tidak haram dilakukan. kedua orang itu adalah:
  • daaimul hadats atau orang yg hadatsnya terus menerus keluar, terus menetes air seninya dimana antara tetesan yg satu dengan yg lainnya berjarak tidak lama, tidak cukup antara tetesan tersebut untuk mengerjakan shalat tanpa adanya hadats yg keluar.
akan kami jelaskan ditulisan berikutnya bagaimana caranya orang ini melakukan wudhu dan sholatnya.
  • orang yg tidak mendapatkan 2 alat suci, yaitu air dan tanah berdebu, seperti orang yg dipenjara disuatu tempat yg tidak ada air atau tanah yg mencukupi syarat untuk tayammum karena tanahnya basah dan tidak mungkin dikeringkan.
atau karena ia berada di padang pasir luas dimana ditempat itu hanya ada pasir dan batu dan tidak didapatkan tanah yg berdebu.

termasuk diantaranya yaitu jika ia berada di dalam pesawat ketika tidak ada air untuk berwudhu atau ada tapi diperlukan untuk minum dan hajat lainnya dan tentunya didalam pesawat tidak ditemukan tanah yg berdebu sehingga tidak memungkinkan bertayammum.

kedua jenis orang ini diwajibkan menjalankan sholat fardhu tanpa berwudhu dan tayammum yang artinya ia lakukan sholatnya dg hadats yg masih ada pada dirinya dan itu dibolehkan dan sah sholatnya untuk menghormati waktu.

dan jika setelah itu ia temukan air atau tanah berdebu maka ia wajib mengulang sholatnya tersebut.

termasuk sholat yg dilarang jika seseorang memiliki hadats kecil yaitu sholat jenazah, haram dilakukan dan tidak sah shalat jenazahnya, kecuali imam sya'bi dan imam thobari yg membolehkan sholat jenazah tanpa mengangkat hadats beralasan bahwa sholat jenazah adalah doa dan doa tidak memerlukan bersuci.

termasuk yg tidak diperbolehkan adalah sujud syukur dan sujud tilawah. haram keduanya dilakukan tanpa berwudhu dan tidak sah sujudnya. 

     2.Thawaf, haram dan tidak sah melakukan thawaf dg masih adanya hadats pada diri seseorang, baik thawaf yg dilakukan itu thawaf rukun seperti thawaf ifadhoh atau thawaf wajib seperti thawaf wada' atau thawaf sunnah seperti thawaf qudum.

diharamkan melakukan thawaf karena thawaf kedudukannya sama dengan sholat hanya saja didalam thawaf dibolehkan berbicara dan makan minum tapi tidak demikian dg sholat.

didalam hadits Rasulullah bersabda:

الطواف بمنزلة الصلاة الا ان الله احل فيه النطق فمن نطق فلا ينطق الا بخير

"thawaf itu sama kedududukannya dengan sholat akan tetapi Allah halalkan berbicara didalamnya, maka barang siapa berbicara maka hendaklah ia berbicara dg yg baik-baik"


     3. Khutbah jum'at, yg diharamkan adalah rukun-rukunnya saja yg berjumlah lima adapun isi ceramah atau taushiyah hukumya sunnah bukanlah rukun khutbah, dari itu jika ia kerjakan rukun-rukunnya dalan keadaan bersuci maka sah khutbahnya walaupun ia berhadats setelah itu ketika menyampaikan isi ceramahnya.

adapun khutbah iedul fitri dan iedul adha atau khutbah lainnya selain khutbah jum'at maka tidaklah haram jika dikerjakan disertai hadats pada dirinya karena dikhutbah-khutbah itu bersuci dari hadats bukanlah suatu syarat sahnya khutbah, tapi walau demikian hukumnya menjadi MAKRUH atau KHILAFUL AULA

     4. Menyentuh bagian mushaf, diharamkan menyentuh mushaf dalam keadaan berhadats, menyentuhnya dg bagian tubuhnya yg mana saja walaupun dengan kukunya, walaupun dengan penghalang yg tebal jika masih secara 'urf dianggap menyentuh mushaf.

yg haram disentuh adalah tulisan-tulisan ayat yg tertulis di mushaf, begitu juga pinggiran-pinggiran mushaf dan bagian kosong yg ada diantara ayat satu dengan ayat lainnya, juga kertas kosong yg biasanya ada diawal mushaf dan diakhir mushaf haram disentuh jika masih tersambung dengan mushaf.

adapun jika kertas kosong itu telah terlepas dari mushaf atau pinggiran-pinggiran mushaf yg kosong dari tulisan ayat itu tergunting sehingga terlepas dari mushafnya maka ada 3 pendapat ulama dalam hal ini:
  1. haram menyentuhnya secara mutlak
  2. halal menyentuhnya secara mutlak
  3. dan pendapat ketiga inilah yg mu'tamad (terkuat) yaitu jika telah dijadikan sampul buku lainnya sehingga tidak lagi disebut kertas/lembaran mushaf maka tidak haram menyentuhnya tapi jika masih disebut kertas/lembaran mushaf karena masih terpisah menyendiri maka haram disentuh.
begitu juga halal disentuh jika kertas itu sudah dijadikan sebagai kertas yg bertuliskan jimat atau yg dinamakan tamimah.

     5. Membawa mushaf, sebagaimana menyentuh mushaf tanpa memiliki wudhu diharamkan begitu juga membawanya karena jika sekedar menyentuhnya haram apalagi membawanya. inilah yg disebut dengan qiyas awlawi.

diperbolehkan membawanya tanpa wudhu jika dikhawatirkan terbengkalai atau terlempar-lempar dan tidak dijumpai seorang muslim yg bisa dipercaya yg dapat dititlpkan mushaf.

bahkan jika dikhawatirkan mushaf itu akan tenggelam atau terbakar atau terkena najis atau jatuh ketangan orang kafir dan ia tidak memungkinkan berwudhu terlebih dulu maka wajib membawanya tanpa wudhu dan jika ia mampu bertayammum sebelumnya maka diwajibkan bertayammum terlebih dulu.

boleh membawa mushaf tanpa wudhu jika membawanya bersamaan dg barang lain seperti membawa mushaf dan buku tulis atau lainnya, dibolehkan dg syarat diniatkan membawa buku tulisnya saja atau barang lainnya itu, atau diniatkan membawa kedua barang tersebut yakni mushaf dan buku tulis, atau tanpa ada niat membawa apapun.

tapi jika diniatkan membawa mushaf saja atau membawa salah satunya tanpa ditentukan maka haram hukum membawanya saat itu.

membawa mushaf bersamaan dg barang lainnya maksudnya adalah membawa keduanya didalam tas atau plastik atau semacamnya dimana ia tidak menyentuh mushaf tersebut.

adapun jika ia membawa mushaf dan buku tulis dengan tangannya tanpa penghalang/penutup alias tangannya langsung bersentuhan dengan mushaf maka HARAM hukumnya karena ia menyentuh mushaf tanpa memiliki wudhu.

membawa tafsir alqur'an boleh saja tanpa memiliki wudhu asalkan YAKIN SEKALI huruf-huruf tafsirnya lebih banyak dari alqu'rannya, adapun jika huruf-huruf alqur'an lebih banyak atau sama banyaknya atau ragu mana yg lebih banyak maka tidak boleh saat itu membawa tafsir tersebut.

berbeda dengan pendapat syekh ibnu hajar yg mengatakan bahwa ketika sama banyaknya atau ragu mana yg lebih banyak maka dibolehkan membawanya.

karena luasnya pembahasan seputar menyentuh dan membawa mushaf maka kami akan khususkan pembahasannya di masa yg akan datang, insya Allah.