Sunday, June 4, 2017

Ibadah puasa tidak ada riya-nya

Bulan puasa sudah sepekan berlalu dan sudah banyak sujud yg dilakukan oleh saudara-saudari kita muslimin dan muslimat, sebagian mereka pastinya sudah mendapatkan kelezatan sujudnya, kelezatan puasanya, kelezatan menahan pandangannya dr yg diharamkan Allah seperti yg Ia janjikan dalam hadits qudsinya:
ابدلته بحلاوة يجدها في قلبه
"Aku gantikan dg rasa manis yg ia dapat rasakan didalam hatinya".

Setelah sepekan berlalu, tahukan kalian bahwa puasa yg kita jalankan dapat jaminan dari sang Nabi bahwa ibadah ini ketika dijalankan oleh kita maka kita akan menjalankannya dengan penuh ikhlas karena Allah dan terbebas dari kerusakan amal sholih yg disebabkan oleh riyaa??.

Dari hadits yg diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dan lainnya yg berbunyi:
قال الله كل عمل ابن ادم له الا الصيام فانه لي و انا اجزي به
"Allah berfirman: Setiap amal bani adam adalah miliknya kecuali puasa sesungguhnya ia adalah milikku maka aku yg akan membalasnya"
Menunjukkan adanya jaminan bahwa puasa hanya milik Allah dan Ia akan membalasnya tanpa batas hitungan.

Kenapa ibadah puasa jauh dari sifat riyaa yg dapat mengugurkan pahala amal sholih? Ketika seseorang berpuasa karena Allah, tdk ada yg dicari kecuali pahala dan redho dariNya maka ia akan berpuasa dg sebenarnya tdk menyentuh makanan dan minumannya walaupun ia sedang sendirian tdk ada orang lain yg mengetahuinya, walaupun dihadapannya saat itu ada makanan kesukaannya atau minuman segar yg menggiurkan, ia tdk akan sentuh itu semua karena ia tahu betul walaupun ia sendiri tapi ada Allah yg Maha Melihat segalanya dan Maha Mengetahui segala gerak geriknya.

Tapi lain jika seseorang berpuasa dan niatnya agar dipuji orang lain atau agar selamat dari celaannorang lain, maka ketika ia sendiri dan tidak ada yg melihat dan saat itu ia telah rasakan lapar diperutnya dan dahaga di tenggorokannya terlebih lagi jika telah tersedia makanan atau minuman yg membuat air liur menetes, ketika puasanya diperuntukkan mencari pujian atau selamat dari cacian maka besar kemungkinan disaat itu ia akan membatalkan puasanya, ia akan minum minuman yg menggodanya, ia akan santap makanan yg menggiurkan nafsunya karena ia melihat bahwa tidak ada seorangpun yg melihat dan lalu setelah itu ia bisa berpura-pura puasa padahal ia sdh lagi tidak berpuasa, itulah jika yg dicarinya adalah pujian atau menghindari cacian, sebab itu ia tdk lagi dinamakan berpuasa dan tinggallah yg berpuasa yg hanya mencari pahala dan redho dari Allah semata yg tidak sama sekali berbeda keadaannya ketika ia dihadapan orang banyak ataukah sedang berada ditengah-tengah mereka.
Itu makanya ibadah puasa disebut oleh ulama ibadah yg terbebas dari penyakit riyaa.

Ada cerita yg disampaikan guru-guru kita seputar ini:
Dulu ada seorang kaya yg dermawan, ia ingin membangun masjid di kampung sebelah kampungnya, lalu ia wakilkan seseorang yg dipercaya untuk mengurus pembangunan masjid itu dari a-z, dari pembebasan tanah dan semua hal yg berkaitan dengan pembangunan masjid dan ia hanya menyiapkan biaya yg diperlukan.
Setelah beberapa lamanya pembangunan berjalan selesailah pembangunan dan jadilah sebuah masjid yg cantik dan wakilnya inilah yg mengatur semua kebutuhan pembangunan dan ia hanya menyiapkan dananya.

Maka masyarakat setempatpun memberikan nama masjid itu dengan nama wakilnya "masjid si fulan" yaitu si wakil.

Ada segelintir orang di kampung otu yg mengetahui darimana asal usul dana pembangunan masjid itu, mereka tahu betul bahwa dananya bukan dana si wakil tapi dana milik seorang kaya dikampung sebelah.

Merekapun berinisiatif untuk mendatangi si orang kaya dermawan itu dan mengkabarkan padanya bahwa masjid yg dibangunnya tidak dinamakan dengan namanya tapi malah dengan nama wakilnya.

Berangkatlah mereka dan singkat cerita setelah diterima oleh tuan rumah dan mereka sampaikan maksud tujuan mereka, si orang kaya dermawan itu berkata kepada mereka:
"AKU MEMBANGUNNYA KARENA ALLAH CUKUP BAGIKU ALLAH YANG MENGETAHUINYA BAHWA AKU YG MEMBANGUNNYA"

inilah makna ikhlas, tidak peduli apa kata orang lain disekelilingnya ketika ia tahu bahwa Allah Maha Tahu dengan yg diperbuatnya.

Penulis: khairullah ramli.